Mengapa Kita Perlu Media yang Berpihak pada Korban? Ini Alasannya!

Notification

×

Iklan

Iklan

Mengapa Kita Perlu Media yang Berpihak pada Korban? Ini Alasannya!

Minggu, Februari 22, 2026 | 11:55 WIB Last Updated 2026-02-22T05:24:05Z

Sumber Gambar: tentangpuan.com

WELASASIHMEDIA --
Saya masih ingat sebuah berita yang saya baca bertahun-tahun lalu. Judulnya besar, provokatif, dan penuh sensasi. Namun yang membuat saya gelisah bukan hanya peristiwanya, melainkan cara ia dituturkan. 


Korban disebut sekilas, tanpa nama, tanpa cerita. Yang justru panjang lebar dibahas adalah latar belakang pelaku—masa kecilnya, tekanan hidupnya, bahkan potensi kariernya yang “cemerlang sebelum kejadian”.


Saya menutup artikel itu dengan perasaan aneh. Seolah-olah pusat gravitasi berita tidak berada pada mereka yang terluka, melainkan pada mereka yang melukai.


Saat itulah saya mulai bertanya: kepada siapa sebenarnya media berpihak?


Ketika Korban Kehilangan Suara


Dalam banyak pemberitaan, korban sering kali hadir sebagai angka. “Tiga orang tewas.” “Puluhan luka-luka.” Statistik memang penting, tetapi ia bisa membuat penderitaan terasa abstrak. Kita membaca, mengangguk, lalu beralih ke berita berikutnya.


Beberapa tahun lalu, seorang kenalan saya menjadi korban kekerasan di ruang publik. Beritanya viral. Namanya tersebar, fotonya dibagikan tanpa izin, detail kehidupan pribadinya dikulik. Alih-alih merasa didukung, ia justru merasa telanjang di hadapan publik. Media seolah mengangkat kisahnya, tetapi pada saat yang sama merampas kendalinya atas narasi dirinya sendiri.


Dari situ saya memahami bahwa berpihak pada korban bukan hanya soal membela secara moral, tetapi juga soal menjaga martabat. Media memiliki kekuatan untuk membentuk cara publik melihat suatu peristiwa. Jika korban digambarkan dengan empati dan kehati-hatian, publik belajar untuk peduli. Jika korban diperlakukan sebagai objek sensasi, publik belajar untuk menonton penderitaan tanpa rasa.


Menggeser Fokus: Dari Sensasi ke Keadilan


Media yang berpihak pada korban tidak berarti menutup fakta atau mengabaikan asas praduga tak bersalah. Ia berarti menempatkan perspektif korban sebagai pusat perhatian, bukan sebagai pelengkap cerita.


Saya pernah membaca liputan mendalam tentang kasus pelecehan yang tidak hanya membahas kronologi, tetapi juga menggali dampak psikologis jangka panjang bagi korban. Artikel itu memberi ruang bagi suara korban—dengan persetujuan dan anonimitas yang dijaga. Tidak ada detail yang vulgar. Tidak ada bahasa yang menyalahkan. Yang ada adalah upaya memahami.


Membaca itu, saya merasa ada yang berbeda. Berita tersebut tidak sekadar memberi informasi, tetapi juga kesadaran. Ia tidak memicu rasa ingin tahu yang voyeuristik, melainkan empati dan dorongan untuk perubahan sistemik.


Media yang berpihak pada korban juga berperan dalam membongkar pola. Banyak kasus kekerasan atau ketidakadilan bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari struktur yang lebih besar. Ketika media berani menelusuri akar masalah—budaya diam, ketimpangan kuasa, lemahnya regulasi—ia membantu mencegah korban berikutnya.


Bahaya Narasi yang Menyalahkan Korban


Ada satu pola yang sering muncul dalam pemberitaan: pertanyaan yang tersirat menyalahkan korban. “Mengapa ia berada di tempat itu?” “Mengapa ia tidak melawan?” “Mengapa ia baru melapor sekarang?”


Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar netral, tetapi dampaknya besar. Ia menggeser tanggung jawab dari pelaku ke korban. Ia menciptakan iklim ketakutan yang membuat orang enggan bersuara.


Saya pernah berdiskusi dengan seorang aktivis pendamping korban. Ia mengatakan bahwa banyak korban lebih takut pada reaksi publik daripada pada proses hukum. Mereka khawatir akan dihakimi, diragukan, atau diserang balik. Dalam konteks ini, media memegang peran krusial: apakah ia menjadi ruang aman atau justru memperpanjang luka?


Berpihak pada korban berarti berhati-hati dalam memilih sudut pandang dan bahasa. Ia berarti sadar bahwa setiap kata dapat memperkuat atau mengikis keberanian seseorang untuk mencari keadilan.


Media sebagai Penjaga Martabat


Pada akhirnya, media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembentuk nilai sosial. Cara media memberitakan korban akan memengaruhi cara masyarakat memperlakukan mereka.


Ketika media konsisten menjaga identitas korban, menghindari detail yang tidak perlu, dan memberi konteks yang adil, ia sedang menanamkan budaya hormat. Ia mengajarkan bahwa penderitaan bukan tontonan, melainkan panggilan untuk tanggung jawab kolektif.


Sebagai pembaca, saya belajar bahwa keberpihakan bukan berarti bias buta. Ia adalah sikap moral untuk melindungi yang rentan tanpa mengorbankan kebenaran. Di dunia yang sering lebih tertarik pada sensasi daripada substansi, keberpihakan pada korban adalah bentuk keberanian etis.


Dan mungkin, di sanalah letak kemanusiaan media diuji.


FAQ: Media yang Berpihak pada Korban

1. Apakah berpihak pada korban berarti media tidak netral?


Tidak. Berpihak pada korban bukan berarti mengabaikan fakta atau membela tanpa bukti. Netralitas tidak sama dengan ketidakpedulian. Media tetap harus akurat dan berimbang, tetapi dengan kesadaran untuk tidak memperparah penderitaan korban.


2. Bagaimana media bisa melindungi korban dalam pemberitaan?


Dengan menjaga identitas (terutama dalam kasus sensitif), meminta persetujuan sebelum mempublikasikan informasi pribadi, menghindari detail vulgar, serta menggunakan bahasa yang tidak menyalahkan atau merendahkan.


3. Apakah menampilkan kisah korban bisa dianggap mengeksploitasi?


Bisa, jika dilakukan tanpa etika. Namun jika disertai persetujuan, perlindungan, dan tujuan edukatif yang jelas, kisah korban dapat menjadi sarana advokasi dan perubahan sosial.


4. Mengapa perspektif korban penting dalam berita?


Karena korban adalah pihak yang paling terdampak. Tanpa perspektif mereka, pemberitaan bisa timpang dan gagal menggambarkan dampak nyata suatu peristiwa.


5. Apa peran pembaca dalam mendukung media yang berpihak pada korban?


Pembaca dapat memilih dan mendukung media yang etis, tidak menyebarkan konten sensasional yang melukai korban, serta bersikap kritis terhadap narasi yang menyalahkan atau merendahkan.


Kita membutuhkan media yang berpihak pada korban bukan untuk menciptakan simpati sesaat, tetapi untuk membangun budaya yang menghargai martabat manusia. Sebab ketika suara yang paling rentan dilindungi dan didengar, di situlah masyarakat menunjukkan kedewasaannya.***(SAB)