Oleh: Sukron Abdilah | Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik UM Bandung
WELASASIHMEDIA -- Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial kembali dipenuhi perdebatan keras, hujatan, dan perundungan verbal. Satu unggahan bisa memicu ribuan komentar bernada sinis, merendahkan, bahkan kejam—sering kali ditujukan pada individu yang sama sekali tidak dikenal secara pribadi. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: ke mana perginya empati kita?
Media sosial awalnya hadir sebagai ruang berbagi dan terhubung. Namun dalam praktiknya, ia kerap berubah menjadi arena penghakiman massal. Kata-kata yang mungkin tidak akan pernah diucapkan secara langsung, kini dilontarkan dengan mudah di balik layar. Empati seolah tertinggal, digantikan oleh keberanian semu dan emosi yang tidak tersaring.
Banyak orang menganggap komentar di media sosial sebagai sesuatu yang remeh. Padahal, bagi penerimanya, komentar tersebut bisa menjadi luka yang nyata. Kasus gangguan kesehatan mental akibat perundungan daring bukan lagi cerita langka. Namun ironisnya, empati publik sering datang terlambat—baru muncul setelah dampak buruk terjadi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa empati kita semakin bersyarat dan reaktif. Kita mudah tergerak setelah ada tragedi, tetapi abai pada proses panjang yang melukai seseorang secara perlahan. Padahal, empati sejati justru bekerja sebelum kerusakan terjadi.
Budaya Viral dan Matinya Kepekaan
Dalam budaya digital, kecepatan sering mengalahkan kedalaman. Kita bereaksi cepat, berkomentar cepat, menghakimi cepat. Algoritma media sosial bahkan memberi panggung lebih besar pada konten yang memicu emosi—marah, benci, atau ejekan.
Akibatnya, empati kalah bersaing dengan sensasi. Manusia di balik layar berubah menjadi objek konten. Kesalahan kecil dibesar-besarkan, perbedaan pendapat dipersonalisasi, dan ruang dialog menyempit.
Ketika empati tidak lagi menjadi nilai utama, media sosial kehilangan fungsi sosialnya dan justru memperlebar jurang antarmanusia.
Isu-isu aktual—baik sosial, budaya, maupun politik—sering kali memperuncing polarisasi. Dalam situasi ini, empati menjadi selektif. Kita bersimpati pada mereka yang sependapat, dan meniadakan kemanusiaan mereka yang berbeda.
Kalimat seperti “pantas dihujat” atau “salah sendiri” menjadi justifikasi kolektif untuk melakukan kekerasan verbal. Padahal, perbedaan pendapat tidak pernah membenarkan perendahan martabat manusia.
Empati tidak berarti setuju, tetapi mengakui bahwa setiap orang tetap manusia, dengan batas emosi dan kerentanan.
Menurunnya empati di ruang digital berdampak langsung pada kehidupan nyata. Anak dan remaja tumbuh dalam budaya komunikasi yang keras. Orang dewasa terbiasa meluapkan emosi tanpa tanggung jawab. Ruang publik—baik daring maupun luring—menjadi semakin tidak ramah.
Lebih jauh lagi, ketidakpedulian ini melemahkan solidaritas sosial. Ketika empati hilang, masyarakat mudah terpecah dan sulit bekerja sama menghadapi persoalan bersama yang jauh lebih besar.
Empati sebagai Tanggung Jawab Bersama
Empati tidak bisa hanya dituntut dari korban atau segelintir orang yang “masih peduli”. Ia adalah tanggung jawab kolektif. Setiap pengguna media sosial memiliki peran dalam menentukan wajah ruang publik digital.
Langkahnya sederhana, tetapi berdampak: Berpikir sebelum berkomentar. Menahan diri untuk tidak ikut menghujat. Mengingat bahwa di balik akun, ada manusia. Empati bukan berarti membungkam kritik, tetapi menyampaikannya tanpa melukai.
Media sosial adalah cermin masyarakat. Jika ruang digital dipenuhi kebencian, itu mencerminkan krisis empati yang lebih dalam. Namun kabar baiknya, empati bisa dilatih dan dipulihkan—dimulai dari kesadaran individu.
Di tengah derasnya arus komentar dan opini, empati mungkin terasa lambat. Namun justru kelambatan itulah yang menyelamatkan kita dari melukai sesama. Tanpa empati, kita mungkin tetap bersuara, tetapi kehilangan kemanusiaan.
Dan kehidupan bersama, baik di dunia nyata maupun digital, tidak akan pernah sehat tanpa empati sebagai penopangnya.***(SAB)


